Senin, 14 Mei 2018

0 Kebiasaan Main Game FPS Berbahaya untuk Otak

Kebiasaan Main Game FPS Berbahaya untuk Otak

Dua peneliti dari Université de Montréal dan McGill University mempublikasikan penelitian mereka tentang psikiatri molekular. Dari penelitian tersebut, mereka menemukan keterkaitan antara game first-person shooter (FPS) dan reduksi materi abu-abu dalam hippocampus.

Materi abu-abu merupakan gen yang terkait kecerdasan, sedangkan hippocampus adalah bagian otak yang mengonsolidasi ingatan pendek ke ingatan jangka panjang serta kemampuan navigasi spasial.

Dua profesor bernama Gregory dan Veronique Bohbot, kemudian melakukan eksperimen dengan merekrut responden berusia 18-30 tahun. Responden tersebut sebelumnya belum pernah bermain video game.

Dalam eksperimen yang berjalan selama empat tahun, responden diarahkan untuk bermain game FPS dalam pengawasan kedua profesor tersebut. Subyek penelitian dibagi menjadi dua, mereka yang menggunakan ingatan spasial untuk menavigasi dan mereka yang menggunakan inti nukleus.

Inti nukleus dalam otak memiliki fungsi untuk membentuk kebiasaan. Dari hasil eksperimen, sebanyak 85 persen dari mereka yang bermain lebih dari enam jam seminggu mengalami peningkatan pada inti nukleus sekaligus penurunan pada materi hippocampus.

Artinya, secara esensial, bermain FPS menurunkan kemampuan mengingat alih-alih mempengaruhi perilaku.

Bagi mereka yang mengalami penurunan materi abu-abu dalam hippocamus memiliki risiko tinggi mengalami peningkatan post-traumatic disorder (PTSD). Pada usia muda, mereka memiliki kecenderungan mengalami depresi dan pada usia tua akan mengalami Alzhaimer.

Semakin lama durasi bermain game akan semakin memperparah kerusakan otak. Menurut peneliti, kebiasaan menggunakan inti nukleus membuat pemain menjadi "auto pilot learning" yang tentu tidak baik.

Sebagian besar peta FPS relatif kecil dengan beberapa titik penting untuk menembak, penyergapan dan sejenisnya. Kebanyakan pemain akan berusahan mengakses salah satu titik secepat mungkin dengan melatih otak untuk menavigasi di dalam ruangan virtual yang kecil.
Inilah yang akan menimbulkan kerusakan.

Peneliti juga membentuk kelompok yang memainkan video game platform 3D Super Mario. Hasilnya, kelompok ini tidak mengalami degradasi hippocampal sebagaimana pemain FPS. Hal ini mengindikasikan kerusakan hanya mungkin terjadi akibat perspektif dalam game jenis tertentu.

Game Super Mario menggunakan perspektif orang ketiga karena karakter Mario telihat secara keseluruhan. Sedangkan FPS, lebih menggunakan perspektif orang pertama, seolah pemain benar-benar masuk ke dalam ruang virtual.

Para gamer yang mengalami kerusakan pada hippocampal setelah bermain game dianjurkan untuk menjalani rehabilitasi karena kerusakan otak. Ketika menginjak usia senja, hippocampus para gamer akan mengalami penurunan kinerja.

Saat tua, manusia cenderung sedikit bergerak dan hanya mengikuti pola rutinitas, hal ini perlahan akan memakan inti nukleus. Saat hippocampus menyusut, area memori lain akan terpengaruh, sebagaimana KompasTekno rangkum dari Geek.com, Rabu (14/2/2018).

Hasil penelitian ini memang belum menjadi kesimpulan akhir. Bisa jadi, peneliti lain nantinya akan mereplika metode ini untuk diaplikasikan ke studi lain untuk meneliti game, demografi, dan bagian otak lain.

Argumen bahwa video game memiliki dampak negatif memang sulit dibantah, selain juga terdapat sisi positifnya dalam otak. Untuk mengurangi efek negatif, gamer FPS mungkin bisa mencoba variasi video game lain, seperti Super Mario Odyssey atau game lain yang sejenis.

0 Cari Logo ini Makanan Halal di Singapura

Ciri dan Logo Makanan Halal di Singapura

Berwisata ke Singapura, mengunjungi berbagai tempat wisata dengan berbagai keragamannya tentu akan menjadi pengalaman tak terlupakan.

Meski demikian, bagi anda wisatawan muslim harus berhati-hati dalam menentukan menu makanan. Di negara singa ini cukup sulit mencari restoran yang menyajikan makanan halal.

Tentu anda harus berhati-hati dalam memilih makanan baik yang dibeli dari restoran tertentu atau makanan kemasan yang dibeli di toko-toko sekitar.

No Pork no Lard

Di Singapura mungkin anda akan dengan mudah menemui restoran yang memiliki plang bertuliskan "no pork no lard" yang artinya tanpa daging babi dan tanpa lemak babi. Namun "no pork no lard" tak sepenuhnya menjamin makanan tersebut halal.

Kata halal juga berkaitan dengan proses pemotongan daging, higienisitas makanan atau bagaimana daging atau bahan masakan tersebut disimpan. Bahan makanan yang disimpan bersamaan dengan bahan makanan lain yang masuk kategori haram tentu harus dihindari juga.

Tak hanya restoran berlabel "no pork no lard", restoran vegetarian pun belum tentu halal. Restoran vegetarian dikatakan benar-benar halal jika seluruh peralatan masaknya tak pernah digunakan untuk memasak makanan tak halal.

Sertifikat Halal

Meski demikian pemerintah setempat telah mengampanyekan resto halal untuk melindungi konsumen dan wisatawan muslim. Sebuah lembaga negara, MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura) menerbitkan sertifikat halal untuk restoran-restoran yang menyajikan ahidangan yang 100 persen halal.

MUIS ini mirip Majelis Ulama Indonesia (MUI). Mereka memiliki standar-standar tertentu untuk menilai halal atau tidaknya makanan yang disajikan suatu restoran atau yang dijual di pasaran.

Selain memberikan sertifikat restoran yang dinyatakan halal dapat mencantumkan logo halal di depan plang restorannya. Salah satu restoran yang mencantumkan logo halal adalah restoran Kublai Khan yang menjual masakan Mongolia dan Jepang.

Kublai Khan terletak di lantai dua pusat perbelanjaan The Central di Jalan Eu Tong Sen, Singapura. Di ujung eskalator menuju resto, terpampang dengan jelas logo halal di ujung atas plang nama resto.

Logo halal berupa bulatan berwarna hijau dengan garis-garis melintang dan membujur dan dilengkapi dengan tulisan halal berwarna putih.

"Makanan yang kami sajikan sepenuhnya halal, kami sudah punya sertifikat," ujar petugas yang menjaga pintu masuk menuju resto.

Jika anda masih kesulitan mencari resto berlogo halal, anda dapat mengunjungi restoran makanan cepat saji terkemuka seperti McDonald.

Kamis, 03 Mei 2018

0 Benarkan Generasi Milineal Tak Punya Tabungan

Benarkan Generasi Milineal Tak Punya Tabungan

Sebuah survei terbaru menemukan bahwa semakin banyak generasi milenial tidak memiliki tabungan sama sekali. Di AS saja, sebuah survei menunjukkan adanya peningkatan jumlah generasi milenial yang tidak mempunyai tabungan.

Mengutip CNBC, Rabu (14/2/2018), survei yang dilakukan oleh GoBankingRates menemukan bahwa sebagian besar generasi milenial muda atau yang berusia 18-24 tahun memiliki saldo tabungan kurang dari 1.000 dollar AS atau setara sekitar Rp 13,6 juta. Bahkan, hampir separuh di antaranya tidak memiliki tabungan sama sekali.

Survei tersebut pun menemukan bahwa ada peningkatan persentase generasi milenial yang tak memiliki tabungan. Pada tahun 2016, 31 persen generasi milenial memiliki tabungan dengan saldo nol alias tidak ada tabungan, namun angka ini naik menjadi 46 persen pada tahun 2017.

Kesulitan menabung tidak hanya terlihat pada generasi milenial muda. GBR melaporkan, generasi milenial tua atau yang berusia antara 25-34 tahun pun kesulitan dalam menyisihkan uang untuk ditabung.

61 persen generasi milenial tua memiliki saldo tabungan kurang dari 1.000 dollar AS. 41 persen di antaranya bahkan sama sekali tidak mempunyai tabungan.

Lalu, berapa banyak sebetulnya jumlah uang yang harus ditabung? Pakar keuangan dari Intuit, Kimmie Greene, memiliki formula sederhana untuk membantu Anda menyisihkan yang untuk ditabung.

Ketika berusia 20 tahunan, sisihkan 25 persen dari total penghasilan untuk ditabung.

"Pastikan biaya gaya hidup Anda tidak melampaui 75 persen dari pendapatan kotor Anda," ujar Greene.

Di usia 30 tahunan, pastikan bahwa besaran tabungan Anda setara dengan gaji tahunan Anda. Jika Anda memperoleh penghasilan semisal 50.000 dollar AS per tahun atau setara Rp 680 juta, maka jumlah yang sama harus ada di dalam tabungan Anda.

Angka tersebut termasuk dana untuk pensiun, investasi, atau dana simpanan lainnya. Di usia 35, pastikan tabungan Anda mencapai dua kali lipat penghasilan tahunan.

Pada usia 40 tahun, tabungan Anda harus tiga kali lipat dari penghasilan tahunan Anda. Demikian pula pada jenjang usia selanjutnya berlaku angka kelipatan.

"Meski kelihatannya sulit, namun jika Anda mulai menyisihkan uang ketika mulai bekerja di usia 20-an, maka rasanya tidak akan sesulit itu," ungkap Greene.

Meskipun demikian, skema menabung tersebut bersifat fleksibel sesuai dengan peristiwa yang terjadi pada hidup Anda. Misalnya Anda menikah, memiliki keturunan, atau akan membeli rumah, jumlah uang yang dapat disisihkan untuk ditabung tentu bisa saja lebih kecil.

Pada akhirnya, ungkap Greene, semakin cepat Anda mulai menabung untuk tujuan finansial Anda, maka ini akan semakin baik.
 

Dunia Informasi Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates